Posts

Showing posts with the label Cerpen

Surprise Kecil untuk Pak Guru Dedi

Image
Bel listrik terdengar meraung dari pengeras suara, pertanda waktu istirahat sudah habis. Saatnya siswa memulai kegiatan belajar berikutnya. Tidak begitu lama berselang murid sudah kembali berada di ruang kelas masing-masing. Begitu pula guru yang akan mengajar di setiap kelas, kecuali Pak Dedi! Ilustrasi gambar (pexels.com) Pak Dedi juga akan mengajar namun ia masih mencari-cari sesuatu di antara tumpukan buku yang ada di mejanya. “Pak Dedi, ada jadwal mengajar sekarang, bukan?” ujar buk Aini dengan nada menegur. Sejenak pak Dedi tertegun. Bukannya ia tersinggung namun merasa heran saja dengan nada suara buk Aini barusan. Tak pernah selama ini seorang guru muda seusia anaknya itu, begitu lancang menegur dirinya supaya masuk untuk mengajar. “Iya, betul buk. Saya mau masuk ke kelas.” sahut Pak Dedi sembari  menoleh sekilas kepada buk Aini, sang guru piket. Pak Dedi memperlambat langkah manakala sampai di koridor kelas yang akan diajarnya. Ketika sampai di depan pintu kelas yang tert...

Menebus Kasih yang Tersandera

Image
Rinto manggut-manggut sambil senyum dikulum. Ia dapat memaklumi keraguan Yana terhadap dirinya. Perempuan muda di hadapannya itu sudah pasti tidak mau dirinya dianggap sebagai pelakor. Ilustrasi gambar (pixabay.com) Rinto juga memahami kegagalan yang pernah dialaminya tidak ingin terulang kembali pada ibu muda dua anak tersebut. “Bukannya aku keberatan mas...,” Akhirnya Yana buka suara sembari memainkan pipet plastik minuman di depannya dengan tangan kanan. Lalu ia melanjutkan ucapannya. “Tapi aku hanya ragu dengan status mas Adi saat ini...,” tukas Yana. Kembali Rinto menatap wajah Yana dengan mata agak dikecilkan. Ulah Rinto ini nyaris membuat Yana tertawa. Rinto terlihat lucu! “Iya. Memang benar katamu. Statusku saat ini masih belum jelas, hitam-putihnya.... Apalagi saat ini aku masih tinggal serumah...” “Kenapa mas Rinto tidak bisa, mengambil tindakan tegas terhadap istri mas...?” Rinto terdiam. “Itu artinya mas punya kesempatan untuk rujuk kembali. Atau, jangan-jangan masih menci...

Kartu ATM

Image
Dari tadi Rima lebih banyak diam. Ia mau bersuara jika ditanya oleh Martias. Itupun dijawabnya dengan singkat dan seadanya. Ilustrasi gambar (pexels.com) “Maaf, Rima...” ujar Martias pelan. Ia mulai merasa tak enak hati dengan sikap dingin Rima sejak tadi. Rima tak merespon. Ia justru merapikan rambut Arsya, putri kecil semata wayangnya yang duduk di samping kirinya. “Rima, boleh saya bicara?”  “Iya, bicaralah, pak...” balas Rima pelan. “Aku sengaja mengajakmu kesini karena ingin menyampaikan sesuatu padamu...,” sambung Martias. Rima hanya diam. Menanti apa yang akan diucapkan lelaki paruh baya di hadapannya. Tetapi Martias kehilangan kata-kata untuk disampaikan selanjutnya pada Rima. “Arsya mau jajan apa, sayang?” tanya Martias tiba-tiba pada Arsya. Sekadar mencairkan kecanggungannya. Martias memperhatikan Arsya dari tadi. Ada sesuatu yang diingini si kecil dengan menoleh pada box es krim di pojok cafe. Anisa menggeleng. Martias tersenyum kecil. Ia menangkap dengan sudut mata saat...

Perbedaan Tak Menghalangi untuk Bahagia

Image
Motor jenis bebek tua keluaran tahun 90-an bergerak pelan di jalan raya. Suara dari mesin dan bodinya terdengar agak berisik kendatipun kecepatannya tak lebih 20 km/jam. Ilustrasi gambar (pexels.com) Meski usia motor itu sudah tua namun terlihat bersih. Menandakan pemiliknya telaten merawat kendaraan. Pengendara motor tua itu juga tidak muda lagi. Rambutnya yang disisir rapi nampak mulai ditumbuhi uban disana sini. Begitu pula deretan kumis tipisnya yang mulai tumbuh rambut putih satu satu. Penampilannya terlihat rapi. Pantas saja. Ia mengenakan pakaian dinas berlengan panjang. Menandakan pria paruh baya itu seorang pegawai pemerintah. Sadar, laki-laki paruh baya itu terlihat santai mengendalikan setang motornya. Siang jelang sore itu cuaca terasa panas. Terik matahari seakan memanggang bumi. Namun Sadar seakan tidak merasakan semua itu. Ia membayangkan Yuni, istrinya telah menunggunya di rumah. Makan siang sudah disiapkan di meja makan. Kopi kesukaannya juga sudah mengepulkan asap de...

Cerpen "Anak Bako"

Image
Musri memutar sedikit kepalanya ke kiri sembari terus memandang ke depan. Siap mendengar jawaban Evie yang duduk di boncengan belakangnya. Ilustrasi gambar (pexels.com) “Rasanya aku memang pernah mendengarnya, bang.” jawab Evie mengencangkan suaranya. Tapi waktu itu Evie masih anak-anak, masih kelas dua es-de. Ia belum mengerti percakapan yang didengarnya tentang pulang ke anak bako. “Ohhh, aku waktu itu sudah paham. Maklum, sudah kelas dua es-em-pe.” timpal Musri. “Tapi sekarang aku sudah mengerti juga, bang...” sambung Evie. “Hehe... Tentu saja karena Evie sudah dewasa,” Musri tertawa kecil. Keduanya terdiam. Musri memandang lurus kedepan. Mengendalikan setang motor dengan kecepatan sedang. Sementara Evie yang duduk menyamping di boncengan menahan tubuhnya. Menjaga jarak agar tubuhnya tidak merapat ke punggung Musri. Ketika masih kecil Evie sering berjumpa dengan Musri. Saat libur sekolah Musri membantu ibunya Evie. Kadang-kadang memanen cabe di ladang. Atau mengangkut padi hasil pa...

Dangau Ini Jadi Saksi Bisu

Image
Ranti menepuk bahu Abdi . Memberi kode untuk berhenti. Abdi mengerem motor dan meminggirkan motor di pinggir jalan. Ranti turun dari jok boncengan. Ilustrasi gambar (pixabay.com) “Kok kesini?” “Pokoknya abang ngikut saja deh...” ujar Ranti seraya berjalan, menuju simpang jalan kecil dan bersemak. Ia sudah hafal lokasi di sekitar itu. Setelah memarkir motor agak jauh ke pinggir jalan, ia mengekor di belakang Ranti. Menuruni  jalan setapak yang ditumbuhi semak di kiri dan kanan. Di ujung jalan setapak, permukaan tanah tidak lagi landai.  Ranti berdiri di pinggiran sawah. Memandang ke arah barat. Hamparan sawah terbentang, terlihat menghijau dengan latar perbukitan. Langit siang jelang sore itu terlihat cerah membiru. “Bagaimana, indah pemandangan disini, bukan?” tanya Ranti tanpa menoleh ke arah Abdi. “Iya, benar Ranti. Abang suka pemandangan alam seperti ini,” sahut Abdi berkomentar. “Ayo, kita jalan sedikit lagi ke dangau, itu milik orangtuaku. Kita beristirahat disana.” uja...

Keponakan Ibuk Kos

Image
Diarman langsung merebahkan tubuh di tempat tidur kecil di kamar kosnya. Kamar kos yang baru disewa dan ditempatinya hari itu.  Ada rasa nyaman dan tenang bersarang di hatinya. Rasa yang sudah lama diidamkannya. Ilustrasi gambar (pexels.com) Sebelumnya guru muda itu memang tinggal di tempat kos yang mewah. Sarana dan fasilitas lengkap. Sewa per bulannya pun sebanding dengan kemewahan tempat kos itu. Namun sangat disayangkan. Suasana di lingkungan sekitarnya tidak membuatnya merasa nyaman. Bising! Hiruk-pikuk manusia di tengah keramaian. Tidak siang tidak malam. Begitu pula bunyi kendaraan bermotor yang bising dan menyakitkan telinga.  Orang-orang seakan menutup telinga. Tidak peduli atau tidak berani menegur anak-anak baru gede itu balapan motor di malam hari. Diarman, guru muda itu akhirnya memutuskan untuk pindah kos. Memilih tempat yang memang jauh dari kebisingan.  Agak ke pinggiran kampung memang. Dan, tadi siang ia sudah resmi tinggal di tempat kos baru.  Menye...